"Dahulu ketika ada even olahraga tingkat nasional disetiap daerah masyarakatnya
berlomba-lomba untuk mencari siapa saja warga yang memiliki TV untuk dijadikan
sebagai lokasi nonton bareng memberikan dukungan kepada tim daerah hingga
nyaris tidak peduli dengan pemilik
rumah. Hal itu merupakan bagian dari sebuah potret jiwa kebangsaan yang
dimiliki oleh para pendahulu, namun saat ini diakui atau tidak jiwa kebangsaan itu mulai luntur, setiap orang
lebih
mementingkan kepentingan individu masing-masing dan itu diakui oleh sesama senator
daerah di Senayan," ujar Rahmi dalam materi PKK Pokja I yang membahas tentang nilai kebangsaan
di Kecamatan Tibawa pekan kemarin.
Rahmi mengatakan Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki sejarah
panjang yang luar biasa, memiliki kekayaan alam yang lebih banyak dibandingkan
dengan negara lain di dunia, semuanya menjadi kebanggaan dan dimanfaatkan
sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat. Semua hal seolah terlupakan yang
diakibatkan kepentingan individu dan kelompok tertentu, sehingga tidak
mengherankan jika semakin banyak terjadi
hal-hal yang menjurus pada perpecahan bahkan tindakan anarkisme.
Sehingganya Rahmi mengatakan bahwa tidak ada cara lain kita harus bangkitkan
kembali jiwa kembangsaan dimulai dari daerah. Memahami keragaman budaya suku,
dan bahasa, menghargai perbedaan pendapat
dan mementingkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pibadi
dan golongan. “Perlu disosialiasikan kembali empat pilar kebangsaan yang
meliputi Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika”Jelas Rahmi




Posting Komentar
Ingin memberikan komentar tapi belum memiliki E-Mail silahkan pilih status anonymous maka anda bebas berkomentar terbuka untuk umum