RAHMI : HASILNYA SAYA AKAN SISIHKAN UNTUK JAMKESDA
Setelah sukses dengan Album perdananya, Ketua PKK Kabupaten Gorontalo Rahmijati Jahja kini meluncurkan Album PKK Kedua yang ditandai dengan Lounching Album solonya pada malam puncak peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke 36 tahun 2008 Tingkat Kabupaten Gorontalo yang dirangkaian dengan peringatan Hari Kartini tahun 2009 bertempat di Lapangan Hijau Desa Suka Makmur Kecamatan Tolangohula. Selasa 2104.
Lounching disaksikan langsung oleh Bupati Gorontalo selaku Ketua Dewan Penyantun PKK, perwakilan pengurus PAUD Pusat, duta UNICEFF, serta sejumlah pencipta lagu lokal diantaranya Ny. Nun Eraku dan Amir Musa pusat. Dalam kegiatan itu pula ditampilkan Dana-dana massal PKK Kabupaten Gorontalo, group Angklung Lansia dan Ketua PKK Kecamatan, Penobatan Ketua PKK Kecamatan terbaik tingkat Kabupaten Gorontalo, show lansia unik serta pemberian door prize yang dikhususkan bagi masyarakat Kecamatan setempat.
Album kedua Album solo tersebut berisi 10 lagu Daerah Gorontalo yang pada lounching diawali dengan menyanyikan lagu Torabua, Bulalo Lolimutu, Hiramea dengan latar kehidupan masyarakat kabupaten gorontalo yang mampu diselesaiakn hanya dalam kurun waktu satu bulan.
Ketua PKK Kabupaten Gorontalo Rahmijati dalam sambutannya menguraikan bahwa pada peluncuran Album perdana terjual sepuluh ribu keping dengan penghasilan berkisar sejumlah lima ratus juta, sehingga PKK Kabupaten Gorontalo saat ini telah berhasi berhasil mendidirikan 17 Mahyani lansia yang tidak dibiayai oleh anggaran daerah serta telah mengumrohkan seluruh Pengurus PKK Kabupaten Gorontalo. Untuk Album kedua ini jika masih diberikan rezeki oleh yang maha kuasa maka sebagian penghasilannya akan disumbangkan untuk menambah kas jaminan kesehatan daerah (Jamkesda) untuk membiayai pengobatan bagi masyakat miskin yang tidak termasuk dalam dalam jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas). Langkah ini ditempuhnya menurut Rahmi karena melihat fenomena saat ini banyak warga miskin yang sakit tetapi tidak berani masuk rumah sakit karena ketiadaan biaya.“Ini menjadi pemandangan keseharian saya, rata-rata warga miskin datang antrian hanya mengharapkan bantuan biaya dan dalam kondisi darurat sehingga tidak ada pertama terpikirkan saat itu hanyalah untuk menyelamatkan nyawa yang bersangkutan tanpa harus memikirkan sumber dana yang ada” Tukas Rahmi.




Posting Komentar
Ingin memberikan komentar tapi belum memiliki E-Mail silahkan pilih status anonymous maka anda bebas berkomentar terbuka untuk umum