Selamat Datang di Blog Rahmiyati Center. | About Us | Contact | Register | Sign In

12 September, 2008

PKK, THE DREAM OF WOMEN

Oleh: Untung Taduga,SE
Plt. Subag. Peliputan & Dokumnetasi
Bagian Humas Kabupaten Gorontalo

Isu yang paling mengemuka saat ini dikalangan perempuan adalah kesejajaran peran antara perempuan dan laki-laki. kaum perempuan dalam semua segmen sama-sama memiliki hak dalam mengembangkan profesinya baik dalam bidang Politik, ekonomi, dan pendidikan Itulah potret kehidupan perempuan saat ini, potret ini yang pada zaman dahulu hanya merupakan Dunia mimpi perempuan (the dream of woman).


Tapi saat ini perempuan bebas memilih pekerjaan yang halal, baik didalam maupun luar rumah, mandiri atau kolektif, dilembaga pemerintah atau swasta. Namun dalam realitas kehidupan sehari-hari kualitas hidup perempuan masih lebih rendah dari kaum laki-laki. Potensi kuantitatif dari SDM perempuan belum diimbangi dengan upaya pengembangan potensi kualitatif, meskipun cukup banyak perempuan yang mampu bersaing dan memberikan kontribusi yang tidak kalah besarnya dalam berbagai bidang pembangunan, mulai dari ilmu pengetahuan, teknologi, politik, ekonomi, sosial, serta pertahanan dan keamanan, namun masih banyak lagi perempuan yang belum mampu menunjukkan potensi dan jati dirinya secara optimal, karena masih terkungkung oleh keterbatasan atau kemiskinan secara struktural, kultural dan alamiah.
Penyebab kemiskinan dikalangan perempuan baik secara ekonomi, politik, sosial dan budaya dapat dijelaskan dengan menggunakan pendekatan kultural, struktural dan alamiah. Pertama, secara kultural sebagian masyarakat masih dipengaruhi oleh budaya tradisional yang beridiologi patriarki, yaitu fenomena ketimpangan struktural berupa keterbatasan kaum perempuan untuk memperoleh pendidikan, memperoleh akses ekonomi, dan berorganisasi. Kedua, kemiskinan struktural berekses pada timbulnya kemiskinan kultural dalam wujud rendahnya pendidikan dan keterampilan sebagian besar perempuan. Kemiskinan alamiah menjelaskan adanya sebagian kaum perempuan yang bersikap pasrah terhadap posisi dirinya dalam kehidupan rumah tangga dan masyarakat, karena menyadari kodratnya sebagai perempuan.
Dalam upaya untuk melaksanakan revitalisasi peran perempuan di negeri ini sejak zaman orde baru telah dibentuk organisasi TP PKK yang pada zaman itu sering dijelaskan sebagai alat untuk mengukuhkan subordinasi atas perempuan dan sebagai bagian integral dari idiologi otoriter Orde baru, yang memandang keluarga sebagai unit terkecil masyarakat. Tapi pasca Orde Baru runtuh, meski menempatkan keluarga sebagai unit terkecil masyarakat, PKK tak lagi dapat dikatakan sebagai alat mengukuhkan subordinasi atas perempuan. Dimulai dari berubahnya kepanjangan akronim PKK, Pembinaan Kesejahteraan keluarga menjadi pemberdayaan kesejahteraan keluarga, Organisasi ini kini justru giat melakukan pemberdayaan perempuan dalam meningkatkan kualitas hidup perempuan. Organisasi ini adalah basis bagi organisasi-organisasi perempuan yang direstui pemerintah ditata sebagai ”organisasi Istri-istri”. Istri-istri dalam hal ini dituntut untuk dapat mengaktualisasikan dirinya pada setiap kegiatan PKK sebagai wujud dari statusnya untuk mendampingi suami dan mampu berperan nyata untuk membackup aktifitas pekerjaan yang dilakoni oleh suaminya. Jangan sampai terjebak pada terminologi tugas istri hanya Kasur, sumur dan dapur.


Share this article now on :

Posting Komentar

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-p =))

Ingin memberikan komentar tapi belum memiliki E-Mail silahkan pilih status anonymous maka anda bebas berkomentar terbuka untuk umum