Farida mengungkapkan selama memberikan materi, peserta sangat reponsif, dimana melalui teknik interaktif peserta mengutarakan seluruh persoalan yang ditemui di lapangan, yang menurut kesimpulannya hal tersebut diakibatkan oleh ketidak tahuan dari seorang penerima tamu serta dari faktor tamu itu sendiri. selain itu pula yang nampak dipermukaan adalah posisi sebagai seorang seorang suami dan istri dalam menerima tamu, serta kesalahan-kesalah lain yang menjadi pemicu rusaknya suatu pertemuan.
Khusus untuk persoalan posisi suami dan istri, secara singkat Farida mengatakan bahwa memang sudah menjadi suatu kewajiban seorang istri untuk menerima tamu, tetapi sebagai seorang suami juga diharapkan dapat membantu istri dengan cukup membukakan pintu jelas Farida.
Farida sehubungan dengan pelatihan tersebut menguraikan bahwa keterampilan dan tata cara penerima tamu, secara tehnis adalah seorang penerima tamu harus menghormati para tamu yang berkunjung di kantor, serta dengan senang hati melayaninya. Untuk itu, seorang penerima tamu perlu mempelajari tata cara menerima tamu, sehingga diharapkan tamu-tamu yang datang merasa senang dan mempunyai kesan baik. Khusus mengenai table manner, Farida membenarkan tanggapan orang bahwa Table Manner Farida adalah jamuan makan ala barat, tetapi menurutnya bukan fahamnya yang diadopsi, tetapi hal tersebut telah merupakan tata aturan internasional, dimana tujuannya dalah untuk mempermudah kita dalam pergaulan, dengan seluruh kalangan apa lagi ditengah masyarakat yang beragam status sosialnya .
Farida pula mengatakan tidak semua tata aturan yang dapat dirterapkan dirumah seperti ketersediaan logistik khusus tamu, sebab menurut Farida kita sebagai orang timur didominasi oleh sikap konsumerisme yaitu belum teratur jam makan, sehingga Farida menaknkan jangan pernah menawarkan pilihan kepada tamu demi keamanan kita Jelasnya.
Khusus untuk kegiatan serupa, kepada koran ini Farida mengaku baru pertama kali mejadi i dihadapan ibu-ibu PKK kecamaan, sebab menurutnya selama ini dirinya selama menjadi instruktur, hanya menajdi instruktur pada setiap even bergengsi ditingkat Kabupaten dan provinsi yang dicontohkannya seperti memberi pelatihan pada peserta calon Nou dan uti dan hal in menurutnya merupakan inisiatif yang membangun dari PKK Kabuapten Gorontalo. Selain itu pula menanggapi himbauan dari ketau PKK agar para peserta diberikan penguatan pengetahuan, Farida mengatakan selaku instruktus yang juga berprofesi sebagai guru tidak pernah memilah dan memilih pengetahuan yang diberikannya.




Posting Komentar
Ingin memberikan komentar tapi belum memiliki E-Mail silahkan pilih status anonymous maka anda bebas berkomentar terbuka untuk umum